Tampilkan postingan dengan label PENGETAHUAN. Tampilkan semua postingan

Cara Menjual dan Memasarkan Produk Sabut Kelapa Cocofiber

Dari Pertanyaan di Blog ataupun via Facebook, banyak teman bingung menjual potensi sabut kelapa, sy mau sdikit share ya, dalam rangkuman kultweet (Kuliah Twitter) @PakarKelapa #Cocofiber smoga manfaat :)
  1. Sejak lama, Indonesia dikenal sbg penghasil kelapa TERBESAR di Dunia
  2. Produsen Terbesar kelapa, tetapi masih minim pemanfaatan produknya, Justru masih kalah dg negara spt Srilangka, apalagi produ
  3. Olahan sabut kelapa dikenal dg #Cocofiber, adalah bahan material produk-produk canggi
  4. #Cocofiber dikenal sejak lama sebagai bahan baku Jok pesawat, Jok mobil mewah teknologi Jerman
  5. Lantas siapa yang menjadi pionir dalam industri #Cocofiber? Negara Miskin di Asia Selatan Srilangka justru pionirnya
  6. Peluang pasar cocofiber yang sangat besar, skrng diambil alih oleh China, mereka produsen terbesar produk turunan tsb
  7. Sementara Indonesia, baru sebatas suplayer bahan baku #Cocofiber untuk China
  8. Industri olahan #Cocofiber Indonesia, sebenarnya sudah mulai ada, tetapi baru sebatas asal ada
  9. Tercatat bbrapa produsen olahan #Cocofiber tanah air yg sudah brjalan ada di daerah Lido Jawa Barat & sbagian di daerah Kebumen Jateng
  10. Namun sayang, produk mereka belum bisa competitif bersaing dg produk China. Kualitas dan pemasaran, masalah klasik pengusaha kita
  11. Ada rekan bisnis yg cukup bagus produknya, sayang manajemennya belum bs menembus pasar yg lebih besa
  12. Akhirnya, Kita masih rela dianggap sebagai Negara pengekspor Raw Material Saja
  13. Cap Negara Pengekspor terbesar #Cocofiber masih lebih bagus, dibanding jika Cocofiber dibakar sebagai sampah saja
  14. Fakta ironis memang, sebagai besar Sabut kelapa di Luar Jawa belum diolah sama sekali, #Cocofiber sekalipun
  15. Banyak rekan luar jawa yg sudah berniat mengolah Sabut Kelapa spy tidak dibiarkan atau dibakar saja
  16. Dan atau ada sebagian yg sudah tahu diolah jadi cocofiber, tetapi banyak tidak tahu cara pemasarannya
  17. Kalaupun sudah tahu cara pemasarannya, sering terkendala persoalan infrastruktur akses produk kelua
  18. Pasar #Cocofiber saat ini, sangat besar kebutuhannya, info dr beberapa rekan pengusaha, kebutuhan hampir lebih besar dr suplai
  19. Peluang pasar Terbuka #Cocofiber ini sebenarnya peluang, sekaligus tantangan, khusus bagi kawan-kawan diluar Jawa
  20. Bagi Luar Jawa, bahan baku cocofiber sama sekali bukan masalah, Justru melimpah
  21. Sementara di Jawa, dg segala kemudahan infrastruktur untuk ekspor, sering kendala bahan baku jadi masalah
  22. Tercatat daerah seperti Ciamis, Jogja, Kebumen, Banyuwangi atau daerah pantai selatan Jawa banyak Industr
  23. Nah, Lalu bagaimana dg Luar Jawa…? saya kira dr uraian sy awal, masih ada beberapa peluang untuk memecahkan masalah pasa
  24. Kalau untuk masalah pasar, diluar persoalan infrastruktur, skrng pasar relativ terbuka, Apalagi skrng Media Sosial sangat MUDAH membantu
  25. Orang sekelas @pakarseo bisa merubah Pasar yg remang-remang menjadi terang benderang, Media Internet jadi Toolnya
  26. Penggunaan media sosial Internet mempermudah sgalanya, email, blog, media online spt twitter, Facebook adalah alat wajib untuk pemasar
  27. Penggunaan media Internet untuk pemasaran #Cocofiber wajib dipakai untuk memperbesar pemanfaatan cocofiber
  28. Jika media Internet sudah dikuasai, selanjutnya kesiapan infrastruktur yang harus diperhatikan
  29. Saat ini, pelabuhan ekspor baru tersedia di beberapa tempat, belum merata. Mau Usaha #Cocofiber, Catat ini harus jadi Perhatia
  30. Diluar Jawa, pelabuhan ekpor yang memadai baru di Belawan Medan, Panjang Lampung, dan di Bitung Manado
  31. Sementara di Jawa, ada Pelabuhan Tj Priuk Jakarta, Tj Emas Semarang dan Tj Perak Surabaya
  32. Bagi kawan-kawan dilaur Jawa, perhatikanlah apakah sebegitu dekatkah dg pelabuhan ekspor impor tsb…?
  33. Kalau dekat atau relativ terjangkau khususnya biaya transportasinya, maka siap-siaplah menjadi pengusaha
  34. Tetapi kalau jauh, maka perlu dihitung ulang, apakah ongkos kirim masih sesuai dg margin yg akan didapat
  35. Contoh kasus, jika lokasi di NTB. Pelabuhan terdekat adalah Tanjung perak surabaya
  36. NTB merupakan salah satu penghasil kelapa terbesar jg, namun pemanfaatan baru sebatas Kopra. Ini PELUANG….. :)
  37. Ambil daerah seperti lombok barat. Sumber kelapa, bahan sabut kelapa melimpah, blm ada persaingan usaha #Cocofiber. Peluaaaaang….
  38. kemudian langkah selanjutnya adalah Lihat transportasinya…, info dr kawan katanya Fuso ke Surabaya, cuma 2,5jt ini PELUAAANG….
  39. Kenapa…? karena di Jawa Saja, contoh Ciamis, kalau mau kirim ke Tanjung Priok ya harganya berkisar 2-3jt per Fuso…
  40. Nah Ini saya maksud sebagai studi kasus untuk melihat bagaimana suatu daerah Cocok untuk usaha #Cocofiber atau tidak..
  41. Rekan-rekan… kenapa sih usaha cocofiber menjanjikan… ? sya berikan ilustrasi sederhana yah…
  42. Begini… harga jual cocofiber diangka Rp 2400 per kg, ongkos produksi di Jawa Rp 1600-1800 per kg, kondisi bahan baku beli
  43. Berarti marginnya adalah minimal Rp 600 per kg, hebat bukan? pdahal sekali kirim per kontainer 18 ton,sekali kirim margin sampai 10jt an
  44. satu kontainer 18 ton hanya perlu dicapai 10 hari saja lho…, biasanya proses produksi rata-rata 2 ton per hari
  45. Sekarang kalau bahan baku gak beli, dg kondisi sama, margin kemungkinan tambah jg, ttp ingat ttp hitung ongkir ya.. :)
  46. Menggiurkan bukan…? Faktor inilah yang membuat Industri #Cocofiber seolah tertutup tp sebenarnya Pasar Terbuka…
  47. Faktor biaya transportasi, kesediaan bahan baku menjadi hal utama dalam proses industri olahan sabut kelapa
  48. Lalu apalagi yang menentukan berhasilnya industri olahan ini? jawabanya adalah mesin produksinya.
  49. Mesin Produksi Cocofiber minimal terdiri dari mesin pengurai, penyaring dan press
  50. Pembelian mesin yang relativ mahal, trkadang menjadi sandungan untuk masyarakat petani kelapa untuk mengolah peluang Industri
  51. Pembelian mesin yang relativ mahal, trkadang menjadi sandungan untuk masyarakat petani kelapa untuk mengolah peluang Industri
  52. Namun bagi pemilik modal, peluang ini adalah kesempatan emas untuk meraup untung dari bisnis sampah ini
  53.  Seperti apa bentuk mesin cocofiber, silahkan bisa dibaca dilink ini ~> http://rumahmesin.com/mesin-produksi-kelapa/jual-mesin-sabut-kelapa/
  54. Produk samping #Cocofiber ada serbuk sabutnya atau cocopeat, peluangnya bisa dibaca disini http://rumahmesin.com/artikel-proses/mencetak-cocopeat-blok-serbuk-sabut-kelapa-bernilai-ekspor/
Barangkali cukup sekian dulu saya mengupas bisnis #Cocifiber, terima kasih om @pakarseo atas Retweetnya :) berkah melimpah
Ada pertanyaan berarti ada Jawaban, ada masalah berarti ada solusi, pengikat solusi adalah tulisan.. Monggo smoga manfaat :)
Demikian KulTweet kami, Follow saya di @PakarKelapa
read more →

Cocopeat Serbuk Sabut Kelapa Suburkan Lahan Kebun Singkong


Cocopeat pada tanaman Cabe1
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI), Efli Ramli menyambut baik tawaran kerja sama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) untuk menggenjot produksi singkong demi mengurangi ketergantungan pada impor gandum.
“AISKI siap mendukung. Apalagi, uji coba penanaman singkong di lahan tandus dengan aplikasi serbuk sabut kelapa (coco peat) menunjukkan hasil yang fantastis. Lahan seluas 1 hektar bisa menghasilkan singkong sebanyak 500 – 800 ton,” kata Efli, Selasa  (29/1/2013).
Menurut Efli, selain dapat meningkatkan produktivitas lahan, penggunaan aplikasi coco peat pada tanaman singkong juga memudahkan proses panen, karena tanah yang mengikat batang singkong dan umbi selalu dalam kondisi gembur dan lembab. “Ini kabar gembira bagi petani singkong Indonesia,” ujarnya.
Untuk menindaklanjuti hasil temuannya itu, AISKI sedang menjajaki kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah yang memiliki lahan tandus dan sulit melakukan budidaya tanaman singkong. “Saat ini, kita sedang menjalin kerja sama dengan Pemprov Kepulauan Riau di Pulau Bintan. Pemprov Kepulauan Riau menyiapkan lahannya, AISKI menyiapkan bibit, coco peat, tenaga ahli, dan teknologinya,” kata Efli.
Ketua Umum MSI, Suharyo Husen, mengapresiasi inovasi AISKI yang berhasil meningkatkan produktivitas tanaman singkong dengan aplikasi coco peat. “Saya undang teman-teman AISKI hadir pada acara temu pakar, 30 Januari,” ujarnya.
Suharyo yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Tetap Industri Derivatif Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin) ini, mengatakan acara temu pakar yang rencananya digelar di Tapos, Ciawi, Bogor, Jawa Barat tersebut, akan dihadiri sekitar 60 pakar singkong dan ahli pertanian Indonesia. “Sekitar 60 pakar telah diundang untuk bicara tentang produktivitas, tapioka, mocaf (modified cassava flour) dan pemasaran. MSI siap bekerja sama dengan AISKI untuk mensejahterakan petani kelapa dan petani singkong Indonesia,” tambahnya.
Dia meyakini, jika komoditas singkong ini digenjot secara maksimal, ketergantungan terhadap gandum bukan hanya bisa ditekan, melainkan bisa dihilangkan. Untuk itu, strategi penggalakkan diversifikasi pangan berbasis lokal seperti singkong, harus terus dilakukan.
Hasil uji coba penanaman singkong dengan aplikasi coco peat yang dilakukan AISKI di Samarinda, Kalimantan Timur, menuai sukses yang fantastis. Bibit singkong hasil inkubasi DNA (deoxyribosenucleid acid) singkong dari Taiwan dan singkong asli Kalimantan Timur yang ditanam di lahan seluas 1 hektar mampu menghasilkan singkong siap jual 800 ton.
Coco peat yang memiliki kandungan trichoderma molds, sejenis enzim dari jamur dapat mengurangi penyakit dalam tanah, menjaga tanah tetap gembur, subur dan memudahkan umbi pada tanaman singkong tumbuh dengan cepat, besar dan panjang.
Selain itu, ia juga memiliki pori-pori yang memudahkan terjadinya pertukaran udara, dan masuknya sinar matahari. Di dalam coco peat juga terkandung unsur-unsur hara dari alam yang sangat dibutuhkan tanaman, berupa kalsium (Ca), magnesium (Mg), natrium (Na), nitrogen (N), fospor (P), dan kalium (K).
read more →

AISKI Cari Partner Kembangkan Bahan Bakar Sabut Kelapa


AISKI Cari Partner Kembangkan Bahan Bakar Sabut Kelapa
Dok AISKI
Briket bahan bakar coco peat yang diproduksi anggota Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) di Desa Penjuru, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) , Riau, sangat diminati buyer asal Jepang. 
Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) sedang mencari partner bisnis untuk mengembangkan briket bahan bakar dari serbuk sabut kelapa (coco peat).
Ini menyusul tingginya permintaan pasar internasional akan bahan bakar ramah lingkungan tersebut.
Sejak produk briket bahan bakar coco peat ini dipamerkan ke publik pada acara Trade Expo Indonesia (TEI) di International Expo Kemayoran, Jakarta, pekan lalu, sejumlah buyer dari berbagai negara langsung menyatakan ketertarikannya dan siap melakukan kontrak pembelian jangka panjang.
Salah satu negara buyer yang paling berminat dengan briket bahan bakar coco peat ini adalah Jepang.
Mereka membutuhkan briket bahan bakar coco peat sekitar 10 ribu ton per bulan sebagai bagian dari upaya negara tersebut mengurangi pemakaian bahan bakar yang tidak ramah lingkungan.
“Ini tantangan bagi AISKI. Kita tidak menyangka, sambutan pasar terhadap briket bahan bakar coco peat ini luar biasa. Untuk memenuhi permintaan sebanyak itu, AISKI akan mencoba cari partner bisnis yang memiliki kemampuan finansial,” ungkap Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari dalam siaran persnya yang diterima Tribunnews, Jumat (26/10/2012).
Menurut Ady, briket bahan bakar coco peat ini pertama kali diproduksi anggotanya di Desa Penjuru, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, pada tahun 2010 lalu.
Namun karena kemampuan produksi mesin yang sangat terbatas, akhirnya produksi bahan bakar coco peat tersebut terhenti di tengah jalan.
“Kendalanya hanya di mesin produksi yang tidak bisa massal. Soal kualitas, tidak perlu diragukan lagi. Panasnya sama dengan briket arang tempurung kelapa. Briket bahan bakar coco peat ini sangat baik sebagai pengganti minyak tanah untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang semakin tergerus,” jelasnya.
Soal ketersediaan bahan baku, Ady mengaku tidak khawatir. Pasalnya, Indonesia sebagai produsen buah kelapa terbesar di dunia dengan produksi rata-rata 15 miliar butir per tahun, memiliki potensi bahan baku coco peat sekitar 5,8 juta ton per tahun.
“Soal bahan baku, kita tidak perlu khawatir. Yang perlu kita pikirkan, bagaimana mendapatkan mesin yang bisa produksi secara massal. Saya juga sangat yakin, briket bahan bakar coco peat ini akan sangat membantu masyarakat pedesaan mengurangi penggunaan minyak tanah yang harganya sudah mencapai angka Rp13 ribu per liter,” tambahnya.
read more →

Indonesia Bisa Kehilangan Rp 13 Triliun karena Sabut Kelapa


Indonesia Bisa Kehilangan Rp 13 Triliun karena Sabut Kelapa
IST
Seorang pekerja mengumpulkan sabut kelapa untuk selanjutnya dibawa ke industri pengolahan sabut kelapa. Teknologi pengolahan sabut kelapa kini banyak dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, termasuk teknologi untuk BiTumMan, atau media tanam untuk kegiatan revegetasi lahan pasca tambang. 

Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) memperkirakan, Indonesia kehilangan potensi pendapatan dari sabut kelapa mencapai Rp13 triliun per tahun.
Angka ini diperoleh dari perhitungan jumlah produksi buah kelapa Indonesai yang mencapai 15 miliar butir per tahun, dan baru dapat diolah sekitar 480 juta butir atau 3,2 persen per tahun. 
Setiap butir sabut kelapa rata-rata menghasilkan serat sabut kelapa atau dalam perdagangan internasional disebut coco fiber sebanyak 0,15 kilogram, dan serbuk sabut kelapa atau coco peat sebanyak 0,39 kilogram.
Harga penjualan coco fiber di pasar dalam negeri berkisar Rp 2.000 - Rp 2.500 per kilogram, dan coco peat berkisar Rp 1.000 - Rp 1.500 per kilogram.
Demikian diungkapkan Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari, usai melakukan pertemuan dengan beberapa importir coco fiber dan coco peat asal China, Singapura, dan Malaysia di Sungai Guntung, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Sabtu (10/11/2012).
"Ini fakta yang sangat memprihatinkan. Kita kehilangan potensi pendapatan sekitar Rp13 triliun per tahun dari sabut kelapa yang dibakar dan dibuang oleh masyarakt. Semua ini terjadi karena ketidakberdayaan dan kurangnya pengetahuan mereka, akan manfaat sabut kelapa. Karena itu, pemerintah harus bergerak dan AISKI siap diajak kerjasama," ujarnya.
Menurut Ady, sabut kelapa pada sebagian masyarakat pesisir Indonesia adalah sampah yang harus dimusnahkan, dibuang dan dibakar pada saat musim kemarau. Namun demikian, di tangan orang-orang kreatif, sabut kelapa yang tidak berguna tersebut dapat diolah menjadi bahan industri yang bernilai ekonomi tinggi.
"Di negara-negara maju, coco fiber banyak digunakan sebagai pengganti busa dan bahan sintetis lainnya. Misalnya, untuk bahan baku industri spring bed, matras, sofa, bantal, jok mobil, karpet dan tali. Sementara coco peat lebih banyak digunakan sebagai media tanam pengganti tanah dan pupuk organik," jelasnya.
Dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, Indonesia sebetulnya merupakan pasar potensial untuk penjualan produk berbahan baku sabut kelapa, seperti penggunaan coco fiber pada spring bed, kasur, bantal, sofa, jok motor, dan tali. Sedangkan coco peat dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman holtikultura.
Berdasarkan catatan AISKI, Indonesia walaupun merupakan negara penghasil buah kelapa terbesar di dunia, namun belum banyak berperan dalam pangsa pasar ekspor raw material sabut kelapa untuk kebutuhan dunia. Indonesia hanya mampu memasok sabut kelapa sekitar 10 persen dari kebutuhan dunia. Sementara Srilanka dan India memasok di atas 40 persen.
read more →

AISKI Bukukan Transaksi USD 60 Ribu di Hari Pertama TEI


AISKI Bukukan Transaksi USD 60 Ribu di Hari Pertama TEI
IST
Stand pameran AISKI di Hall A1 nomor 52, Jakarta International Expo Kemayoran 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Stand pameran Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) yang berlokasi di hall A1 nomor 52 Jakarta International Expo Kemayoran, ramai dikunjungi buyer luar negeri.
Pada hari pertama pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI), Rabu (17/10/2012), AISKI membukukan transaksi sebesar USD 60 ribu.
Ketua Umum AISKI, Efli Ramli, mengatakan, transaksi tersebut bersumber dari penjualan serbuk sabut kelapa (coco peat) sebanyak 8 kontainer kepada Mr Ismail Taher M Harraz dari perusahaan ETA Import, Mesir, dan penjualan coco sheet sebanyak 2 kontainer kepada Mr Kim Moo Chul dari perusahaan Dyrex International Ltd, Korea Selatan.
Adapun produk yang dipamerkan AISKI tahun ini, antara lain, serat sabut kelapa (coco fiber), coco peat, coco sheet, coco pot, tali, matras, bantal, briket bahan bakar, briket media tanam dan triplek komposit.
“Semua produk yang kami jual di pameran ini, berbahan baku sabut kelapa,” jelas Efli yang juga Direktur Utama PT Mahligai Indococo Fiber ini.
Sebelumnya, salah satu dari 33 eskportir yang mendapatkan penghargaan Primaniyarta dari pemerintah adalah Ketua AISKI Sumatera Utara (Sumut), Sony Wicaksono.
Penghargaan diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam acara pembukaan Trade Expo Indonesia di Jakarta International Expo Kemayoran.
Penghargaan yang diterima Ketua AISKI Sumatera Utara tersebut adalah eksportir Usaha Kecil Menengah (UKM). Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada eksportir yang sudah berkontribusi bagi perekonomian nasional.
Menanggapi penghargaan Primaniyarta yang diterima anggotanya, Efli mengatakan, penghargaan Primaniyarta hanyalah rangsangan bagi pelaku UKM untuk meningkatkan eksistensinya sebagai eksportir yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
“Seharusnya pemerintah tidak hanya berhenti pada pemberian penghargaan Primaniyarta, tapi bagaimana meningkatkan kapasitas pelaku eksportir UKM agar sejajar dengan negara-negara lainnya,” harap Efli penerima penghargaan Primaniyarta kategori eksportir UKM, tahun 2011.
read more →

BPPT: Prospek Industri Sabut Kelapa Sangat Besar


BPPT: Prospek Industri Sabut Kelapa Sangat Besar
Ist
Beberapa pekerja sedang membuat salah satu produk rumah tangga dari bahan sabut kelapa 

 Sentra Teknologi Polimer (STP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menyambut baik pengembangan industri hilir sabut kelapa Indonesia yang saat ini dikembangkan Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI).
Sebagai bentuk dukungannya, Sentra Teknologi Polimer BPPT siap terlibat di dalamnya dalam rangkaian pemberian nilai tambahnya.
“Prospeknya luar biasa, semoga STP - BPPT dapat menjadi bagian dalam menyukseskan "coco" program AISKI ini.
Kepala STP– BPPT, Asep Riswoko, mengatakan bahwa sesuai hasil riset STP- BPPT, sabut kelapa sangat layak dimanfaatkan untuk bahan baku plywood komposit.
"Mudah-mudahan ini menjadi langkah awal untuk menjadi program nasional dan kami harapkan STP terlibat di dalamnya,” kata Asep Riswoko, di Jakarta, Sabtu (15/9/2012).
Sebelumnya, saat menerima kunjungan Ketua Umum AISKI Efli Ramli didampingi Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Ady Indra Pawennari, dan Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis Vinolita di Puspitek, Serpong, Jawa Barat, Asep mempresentasikan hasil riset lembaga yang dipimpinnya terkait pemanfaatan sabut kelapa untuk produk plywood komposit.
Jika hasil riset ini bisa dikembangkan, kata Asep, maka Indonesia akan mengurangi penggunaan kayu dalam pembuatan plywood komposit dan sejenisnya hingga 70 persen.
"Ujicoba terhadap penggunaan serat dan serbuk sabut kelapa dalam pembuatan produk plywood komposit cukup berhasil, baik dari segi estetika maupun kualitas dan ketahanannya,” beber Asep.
Saat ini potensi buah kelapa Indonesia yang jumlahnya mencapai 15 miliar butir per tahun, bukanlah jumlah yang sedikit. Jika setiap butir sabut kelapa menghasilkan 0,39 kilogram coco peat, maka jumlah coco peat yang berpotensi dijadikan plywood bisa mencapai 5,8 juta ton per tahun. “Ini jumlah yang tidak main-main,” ungkap Asep.
Industri Hilir
Sementara itu, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan AISKI, Ady Indra Pawennari mengapresiasi hasil riset STP-BPPT ini.
Dia berharap pemerintah segera mendorong pembangunan industri hilir sabut kelapa. Dengan demikian, Indonesia tidak lagi mengekspor sabut kelapa dalam kondisi mentah, tapi sudah diolah dalam bentuk produk jadi.
Penggunaan plywood komposit dari sabut kelapa ini, dapat mengurangi terjadinya penebangan liar dan pemanfaatan kayu secara ilegal.
“AISKI sudah memulainya, tapi masih sangat tradisional dengan peralatan yang sederhana. Kita berharap pemerintah tidak tinggal diam. Indonesia sebagai produsen buah kelapa terbesar dunia, harus mampu memaksimalkan produk hasil sampingnya. Bayangkan, China yang tidak punya kebun kelapa, tapi menjadi raja pemasok sabut kelapa dunia,” kata Adi.
Beberapa produk sabut kelapa yang sudah diproduksi anggota AISKI, jelas Ady, di antaranya jok mobil, kasur berkaret, matras, tali, jaring, briket bahan bakar, keset kaki, dan media tanam.
Beberapa produk lainnya sedang dalam pengujian adalah batako dari sabut kelapa.
“Batako sabut kelapa ini sedang dalam pengujian melalui perendaman di air. Sekarang sudah memasuki bulan keenam, tapi belum ada perubahan secara fisik. Selain bobotnya ringan, batako sabut kelapa ini dapat berfungsi sebagai peredam panas,” katanya.
Indonesia, meski sebagai produsen buah kelapa terbesar dunia, namun masih jauh tertinggal jika dibandingkan dengan Srilanka dan India dalam pemanfaatan sabut kelapanya sebagai komoditas bernilai ekonomi.
Srilanka mampu memasok sabut kelapa sebanyak 50 persen untuk kebutuhan dunia. Sementara Indonesia hanya mampu memasok sekitar 10 persen atau sebanyak 50 ribu ton per tahun.
Harga penjualan serat sabut kelapa atau coco fiber di pasaran internasional mengalami penurunan yang signifikan. Selama tahun 2012 ini, harga penjualan serat sabut kelapa di pasaran internasional sudah mengalami tiga kali penurunan, yakni mulai dari harga 400 dolar Amerika per ton hingga turun ke harga 300 dolar Amerika per ton.
“Sudah saatnya pasar dalam negeri diperkuat. Kita jangan lagi bergantung pada pasar ekspor yang didominasi oleh China. Kurangi impor barang yang berbahan baku sabut kelapa, sehingga industri sabut kelapa yang mayoritas kelompok usaha kecil bisa berkembang,” tambahnya.
Sebetulnya, ada banyak cara untuk meningkatkan pemanfaatan sabut kelapa di dalam negeri. Misalnya, pemerintah membuat kebijakan gerakan nasional pemanfaatan sabut kelapa terhadap produk kasur, bantal, jok motor, jok mobil, sofa dan lain-lain.

Sumber: TRIBUNNEWS.COM Editor: Anwar Sadat Guna
read more →

Design Web Agar Menarik


Desain situs yang tepat merupakan sebuah keharusan untuk Anda. Pilihan ada di tangan Anda, karena ini adalah situs Anda, dan Anda harus memutuskan apa yang Anda sukai. Banyak tahu tentang tutorial desain bagus, tapi harus tetap menjadi diri sendiri.
Pilihan seperti warna, style, fonts, gambar dan gaya penulisan yang digunakan, semuanya itu merupakan hal yang bersifat personal dan bukan hal yang bisa dianggap mudah.


Beberapa tips desain web:

Grafis/Gambar

Grafis atau gambar merupakan bagian terpenting dari suatu desain situs Internet. Dengan grafis/gambar, kita dapat memberikan unsur warna, kesan dan tema. Unsur-unsur tersebut sangat dibutuhkan, asalkan tidak terlalu berlebihan. Terlalu banyak gambar tidak hanya membuat upload situs Anda lambat.

Layout

Merancang sebuah layout website desain yang tampak sama untuk semua halaman situs Anda akan lebih memudahkan pengunjung dalam memahami isi situs Anda, daripada membuat layout website desain yang berbeda-beda untuk setiap halaman. Anda boleh membuat layout halaman yang berbeda-beda untuk setiap penulisan halaman, namun sebaiknya setiap halaman mempunyai dasar layout yang hampir sama.

Navigasi

Navigasi yang mudah merupakan hal yang penting dalam situs yang baik. Jika pengunjung tidak mendapat apa pun dari situs Anda, apakah mereka akan tetap mengunjungi situs itu?

Iklan

Iklan yang terlalu banyak merupakan hal yang buruk bagi para pengunjung. Cobalah untuk menempatkannya sebaik mungkin di tempat yang paling dihiraukan pengunjung tanpa mengganggu prioritas isi atau content yang ada.

Proses Pemeliharaan (maintenance)

Jika Anda menghubungkannya dengan situs yang lain, Anda harus memeriksanya secara rutin untuk memastikannya masih ada, karena kadang ada situs yang hilang.

Sesuatu yang ‘Berkedip’

Sesuatu yang berkedip, entah itu gambar maupun tulisan, dapat menjadi hal yang mengganggu pengunjung.

Ramai/Berisik

Banyak orang sering menambahkan musik pada situs mereka. Semua itu baik, tetapi jika lagu terlalu keras hingga pengunjung tidak nyaman apakah itu bagus?

Pop-Ups

Tidak hanya iklan pop-up namun juga pop up boxes. Anda tahu, ketika Anda membuka sebuah situs dan kemudian nama Anda ditanyakan, mungkin itu masih bisa dimaklumi. Namun jika kemudian muncul 5 (lima) baris pertanyaan berbeda atau harus menjawab sebuah pertanyaan di setiap halaman situs tersebut, maka pengunjung akan segera menutup dan meninggalkan situs tersebut, karena merasa terganggu.

Warna

Dengan memberikan warna yang tepat, maka akan menambah kesempurnaan situs, sehingga halaman-halamannya akan mudah dibaca. Anda harus yakin bahwa warna yang Anda berikan akan sesuai dengan warna text.

Fonts

Anda tidak harus memakai standart fonts yang sama terus menerus dalam sebuah situs agar tidak membosankan. Ada banyak sekali jenis font yang lain, yang akan membuat tulisan Anda terlihat lebih menarik. Namun pemakaian font yang terlalu beraneka ragam dalam suatu halaman juga tidak baik. Batasilah pemakaian font dalam suatu situs menurut jenis pemakaiannya.

Gaya Penulisan

Setiap orang mempunyai cara penulisan sendiri. Anda dapat menjadi seseorang yang lucu, serius, atau apa adanya. Bagaimana Anda menulis dalam situs Anda adalah hak Anda sepenuhnya walaupun terkadang Anda butuh jasa website, dan Anda perlu memilih dengan gaya penulisan yang bagaimana Anda akan mengisi situs Anda.

Isi/Content

Anda akan buat website seperti apa? Hal apapun yang Anda tulis, Anda harus yakin bahwa ejaan dan tata bahasa yang dipergunakan sudah benar, dan jika Anda mempunyai cukup waktu, bacalah ulang untuk meyakinkan bahwa sudah tidak ada lagi kesalahan bahasa.
read more →